Portalcerdas, Opini - Bahasa Inggris hari ini telah melampaui fungsinya sebagai alat komunikasi; ia menjelma menjadi kapital global yang menentukan posisi individu, komunitas, bahkan negara dalam peta persaingan dunia. Dalam ekonomi global yang digerakkan oleh jasa, pariwisata, teknologi, dan perdagangan lintas batas, kemampuan berbahasa Inggris, khususnya speaking menjadi simbol mobilitas sosial dan profesional. Mereka yang mampu berbicara dengan percaya diri dan kontekstual cenderung lebih mudah mengakses peluang kerja, jaringan internasional, dan ruang negosiasi global. Sebaliknya, keterbatasan speaking kerap menjadi batas tak kasat mata yang menyingkirkan individu dari arus utama globalisasi.
Data global memperkuat kenyataan tersebut. Laporan EF English Proficiency Index terbaru menunjukkan bahwa negara dengan tingkat kemahiran bahasa Inggris tinggi umumnya memiliki daya saing ekonomi, inovasi, dan keterbukaan pasar tenaga kerja yang lebih kuat. Dalam konteks negara berkembang, kemampuan speaking sering menjadi pembeda antara pekerja lokal yang stagnan dan mereka yang mampu menembus pasar internasional. World Bank bahkan menegaskan bahwa keterampilan komunikasi internasional berkontribusi langsung terhadap produktivitas tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi berbasis jasa. Artinya, bahasa Inggris bukan sekadar bahasa asing, melainkan aset strategis dalam ekonomi global.
Namun, dominasi bahasa Inggris juga membawa paradoks serius yakni ketimpangan linguistik. Pierre Bourdieu menyebut bahasa sebagai bentuk linguistic capital yang tidak terdistribusi secara merata. Mereka yang memiliki akses pada lingkungan internasional, teknologi, dan jejaring global akan terus memperkuat modal bahasanya, sementara kelompok lain tertinggal. Akibatnya, bahasa Inggris berpotensi memperlebar jurang sosial bukan karena kecerdasan, melainkan karena akses. Fenomena ini terlihat jelas di dunia kerja, di mana dua individu dengan kompetensi teknis serupa dapat diperlakukan berbeda hanya karena perbedaan kelancaran berbicara dalam bahasa Inggris.
Lebih jauh, hegemoni bahasa Inggris juga memunculkan persoalan identitas. Di banyak ruang profesional dan digital, aksen lokal sering dipersepsikan sebagai kurang kompeten, meskipun pesan yang disampaikan substansial. Linguist Alastair Pennycook menegaskan bahwa bahasa Inggris global seharusnya dipahami sebagai bahasa plural, bukan milik satu budaya tertentu. Namun dalam praktiknya, standar native-like speaking masih mendominasi, menciptakan tekanan psikologis dan rasa inferior bagi penutur non-native. Ini menunjukkan bahwa persoalan bahasa bukan hanya teknis, tetapi juga politis dan kultural.
Karena itu, saya berpendapat bahwa tantangan utama hari ini bukan sekadar meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris, melainkan mendefinisikan ulang makna kemahiran itu sendiri. Speaking yang efektif di era global adalah kemampuan menyampaikan makna secara jelas, etis, dan adaptif lintas budaya, bukan meniru aksen tertentu atau memenuhi standar elitis. Jika bahasa Inggris terus diperlakukan sebagai simbol status semata, ia akan memperkuat eksklusi. Namun jika diposisikan sebagai alat kolaborasi global yang inklusif, bahasa Inggris justru dapat menjadi jembatan keadilan, partisipasi, dan daya saing yang berkelanjutan.

0 Komentar