Bondowoso,
Portalcerdas –
Paparan materi yang pertama disampaikan oleh Ika Fitriani, S.Pd., M.Pd., dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNEJ mengenai Self-Access Language Learning. Selanjutnya, Ika juga menyampaikan bahwa pentingnya kompetensi bahasa Inggris dalam bidang pertanian di sekolah yang berbasis vokasi sebagai kunci kemajuan sekolah dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Di sela-sela sesi pemaparan materi, sesi refleksi juga diberikan kepada para guru dan tenaga kependidikan yang terlibat untuk berbagi pengalaman, inovasi, dan kiat sukses selama menjadi guru. Selain hal itu, Ika juga menyampaikan bahwa tantangan menjadi seorang guru yaitu bagaimana cara memotivasi siswa untuk terus bersemangat dalam belajar melalui berbagai kemudahan akses belajar dan fleksibilitas yang ditawarkan.
Ika dalam pemaparan materi juga menyampaikan bahwa siswa harus diproyeksikan menjadi lifelong learner atau pembelajar sepanjang hayat dengan internal motivation yang kuat untuk senang belajar. Tak hanya itu, ia juga mengenalkan SALL (Self-Access Language Learning) atau konsep pendekatan yang melatih siswa bertanggung jawab untuk memilih sumber belajar yang sesuai dengan kebutuhan belajar murid yang berbeda. Selanjutnya, ia juga memberikan website belajar mandiri berbahasa Inggris dalam konteks pertanian bernama SALLAgri (Self-Access Language Learning for Agriculture) yang merupakan bagian dari penelitian pengembangan materi belajar yang menarik berbasis English for Specific Purposes.
Dilanjutkan dengan pemaparan materi kedua oleh Getari Adyagarini, S.Pd., M.Pd., yang membahas mengenai inovasi media pembelajaran melalui pendekatan Culturally Responsive Teaching dengan harapan bisa diterapkan di semua mata pelajaran. Getari berangkat dari masalah kemalasan belajar yang berasal dari faktor materi, kurangnya keterlibatan siswa, dan desain pembelajaran. Melalui pendekatan Culturally Responsive Teaching dan inovasi pembelajaran, tentu tidak hanya terbatas pada device dan technology, melainkan pada meaningful and mindful learning. Selanjutnya, pendekatan CRT yang dimotori oleh Vygotsky mendukung pembelajaran bermakna melalui budaya belajar yang positif. Tak hanya itu, Getari juga memunculkan ide bahwa komoditas lokal bisa juga diintegrasikan sebagai bagian dari proses pembelajaran, seperti kopi, padi, dan jagung.
Pemaparan materi terakhir disampaikan oleh Dr. David Imamyartha, S.Pd., M.Pd., mengenai Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam. Di awal sesi beliau memberikan peluang untuk para guru dan tenaga kependidikan mengisi opininya mengenai pembelajaran Deep Learning melalui berbagai cara interaktif, dan inovatif melalui gambar dan sharing opini. Beliau juga menyampaikan bahwa pembelajaran Deep Learning melatih pembelajar untuk berfikir kontekstual dan memahami suatu hal secara komprehensif termasuk budaya-budaya positif yang ada di dalam pembelajaran.
David juga menyampaikan bahwa metode ini bisa diterapkan di semua mata pelajaran, lebih khusus di Bahasa Inggris. Murid dapat memanfaatkan gawai untuk mengakses berbagai sumber belajar sehingga menjadi lebih beragam dan peran guru adalah untuk melatih murid berpikir kritis, analitis, dan mengakar pada kebudayaan. Tak jarang ia memberi contoh hasil temuan penelitian, bahwa komponen budaya dalam pembelajaran mendalam berperan penting dalam membangun ekosistem belajar murid.
Kegiatan ditutup dengan diskusi bersama dosen dan mahasiswa magister Pendidikan Bahasa Inggris yang terlibat diantaranya; Dr. Asih Santihastuti, S.Pd., M.Pd. Dr. David Imamyartha, S.Pd., M.Pd. Rizki Febri Andika H, S.Pd., M.Pd. Getari Adyagarini, S.Pd., M.Pd. Drs. Bambang Suharjito, M.Ed. Dra. Made Adi Andayani, M.Ed. Meitia Ekatina, S.Pd., M.Ed. Ika Fitriani, S.Pd., M.Pd. Emilda Oktaviyani, S.S., M.Pd. Ali Wafa, S.P., M.Si. Turut terlibat dalam tim penelitian dan pengabdian masyarakat, mahasiswa magister dan sarjana Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNEJ, Muhammad Rafi Sofyan Putra, S.Pd., CPS. Nabila Maheswari Kusuma, S.Pd. dan Ines Kurnia Raharjo.



0 Komentar