Hari Kesaktian Pancasila dan Ingatan yang Tak Boleh Padam

 

Opini oleh Muhammad Rafi Sofyan Putra, S.Pd., CPS. Ketua Umum Pemuda Bersatu (PEMBERSATU)


Setiap 1 Oktober, kita kembali diingatkan pada satu kata yang sejak kecil begitu akrab di telinga yakni  Pancasila. Kita mengucapkannya dalam upacara, menghafalnya di sekolah, membacanya dalam buku pelajaran, bahkan mungkin berkali-kali mengunggahnya di media sosial. Namun, ada pertanyaan sederhana yang barangkali perlu kita ajukan kepada diri sendiri, apakah Pancasila benar-benar hidup dalam keseharian kita?


Pertanyaan itu penting, sebab Pancasila bukan sekadar lima sila yang tersusun indah. Ia adalah nilai yang seharusnya menjadi nafas dalam kehidupan berbangsa.


Secara resmi, 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila melalui Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967. Sejarah yang melatarbelakangi peringatan ini tentu memiliki tempat penting dalam perjalanan bangsa. Tetapi bagi saya, memperingati Hari Kesaktian Pancasila tidak cukup hanya dengan mengingat apa yang pernah terjadi. Kita juga perlu bertanya tentang apa yang sedang terjadi dan apa yang akan kita lakukan setelahnya.


Sebab zaman telah berubah. Hari ini, ancaman terhadap persatuan tidak selalu datang dalam bentuk konflik terbuka. Ia bisa hadir melalui layar telepon genggam. Ia dapat tumbuh dari sebuah unggahan, komentar, potongan video, atau informasi yang belum tentu benar. Perbedaan pilihan, pendapat, keyakinan, bahkan cara berpikir, terkadang dengan mudah membuat kita saling memberi label dan menjauh satu sama lain.


Ironisnya, kita sering berbicara tentang persatuan dengan suara lantang, tetapi lupa mempraktikkannya dalam percakapan sehari-hari.


Pancasila seharusnya mengajarkan kita untuk berbeda tanpa harus bermusuhan. Kita boleh tidak sepakat, tetapi tetap bisa saling menghormati. Kita boleh memiliki jalan hidup yang berbeda, tetapi tetap bisa bergandengan tangan untuk kepentingan yang lebih besar.


Di sinilah generasi muda memiliki peran yang sangat penting. Menjadi bagian dari generasi pemuda tidak harus selalu ditunjukkan melalui slogan besar. Kadang ia hadir dalam tindakan yang sederhana, seperti halnya tidak ikut menyebarkan informasi yang belum jelas, menghargai teman yang berbeda pandangan, membantu tetangga yang kesulitan, menjaga lingkungan, membuka ruang diskusi, serta mau turun tangan ketika masyarakat membutuhkan.


Pemuda harus menjadi generasi yang tidak hanya pandai mengkritik keadaan, tetapi juga berani mengambil bagian dalam memperbaikinya.


Sebagai Pemuda Bersatu (PEMBERSATU), kami percaya bahwa persatuan tidak lahir dari keseragaman. Persatuan justru tumbuh ketika perbedaan mampu dipertemukan oleh kepedulian dan tujuan bersama. Karena itu, gerakan pemuda harus terus diarahkan pada pendidikan, literasi, sosial, kebudayaan, dan pengabdian kepada masyarakat.


Kita tidak perlu menunggu menjadi pejabat, tokoh besar, atau orang terkenal untuk mengamalkan Pancasila. Kita bisa memulainya dari tempat kita berdiri hari ini.


Dari cara kita berbicara.
Dari cara kita memperlakukan orang lain.
Dari cara kita menggunakan media sosial.
Dari cara kita merespons perbedaan.
Dan dari keberanian kita untuk peduli.


Hari Kesaktian Pancasila pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana Pancasila bertahan dalam sejarah. Lebih jauh, ia adalah tentang bagaimana kita menjaga agar nilai-nilainya tetap relevan bagi generasi hari ini dan generasi yang akan datang.


Sebab Pancasila tidak akan kehilangan kesaktiannya selama kita tidak kehilangan kemauan untuk menghidupkannya.


Jangan biarkan Pancasila hanya tinggal sebagai hafalan. Jangan pula biarkan persatuan hanya menjadi slogan. Mari jadikan Pancasila sebagai sikap, persatuan sebagai gerakan, dan kepedulian sebagai jalan untuk membangun Indonesia.


Selamat Hari Kesaktian Pancasila. Merawat ingatan, menjaga persatuan, dan menghidupkan Pancasila melalui tindakan nyata.

Posting Komentar

0 Komentar