Opini oleh Muhammad Rafi Sofyan Putra
Hari Raya Iduladha tidak sekadar menghadirkan gema takbir dan penyembelihan hewan kurban. Di balik peristiwa itu, tersimpan pelajaran besar tentang keberanian menentukan jalan hidup dan ketaatan tanpa syarat kepada Allah. Sosok Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menjadi gambaran nyata bahwa iman bukan hanya tentang keyakinan di dalam hati, melainkan keberanian mengambil keputusan besar dalam hidup.
Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa ketaatan sejati sering kali hadir dalam ujian yang tidak mudah diterima oleh logika manusia. Ketika diperintahkan untuk mengorbankan putra yang sangat dicintainya, beliau tidak memilih membantah, menunda, atau mencari alasan. Nabi Ibrahim memahami bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala kepentingan duniawi. Ketaatan itu lahir dari keyakinan bahwa setiap ketetapan Allah memiliki hikmah yang lebih besar daripada keinginan manusia.
Namun kisah ini tidak hanya berbicara tentang Nabi Ibrahim. Ada sosok Nabi Ismail yang sering terlupakan dalam sudut pandang keberanian. Nabi Ismail bukan sekadar anak yang pasrah menerima keputusan ayahnya. Ia adalah pribadi yang dengan sadar memilih jalan hidup yang penuh pengorbanan demi menjalankan perintah Allah. Dalam usia muda, Nabi Ismail menunjukkan kedewasaan iman yang luar biasa. Ia tidak memberontak, tidak menyalahkan keadaan, dan tidak lari dari takdir yang dihadapinya.
Di tengah kehidupan modern saat ini, keberanian seperti Nabi Ismail menjadi sesuatu yang langka. Banyak orang ingin hidup nyaman tanpa ujian, ingin mendapatkan hasil tanpa pengorbanan, bahkan mudah meninggalkan prinsip ketika berhadapan dengan tekanan dunia. Padahal, memilih jalan yang benar sering kali membutuhkan keberanian untuk kehilangan, keberanian untuk berbeda, dan keberanian untuk tetap bertahan meski tidak dipahami banyak orang.
Sementara itu, keteladanan Nabi Ibrahim mengingatkan bahwa manusia tidak selalu mampu memahami rencana Allah secara utuh. Ada kalanya hidup membawa seseorang pada situasi yang terasa berat, menyakitkan, bahkan seolah tidak adil. Tetapi dari situlah keimanan diuji: apakah manusia tetap percaya, atau justru berpaling ketika harapan tidak sesuai keinginan.
Iduladha akhirnya bukan hanya tentang ritual kurban, melainkan momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana keberanian kita memilih jalan hidup yang benar, dan seberapa besar ketaatan kita kepada Allah ketika diuji oleh keadaan?
Sebab pada akhirnya, sejarah besar Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengajarkan satu hal penting: pengorbanan yang dilandasi iman tidak pernah benar-benar kehilangan apa pun. Tuhan selalu mengganti ketulusan dengan kemuliaan yang lebih besar.

0 Komentar