Pendekatan SOLO: Energi Baru untuk Pembelajaran yang Benar-Benar Mendalam

 

Oleh Muhammad Rafi Sofyan Putra - Penggerak Gerakan Sekolah Menyenangkan Jawa Timur (GSM)

Di ruang-ruang kelas kita hari ini, ada pertarungan senyap antara hafalan dan pemahaman. Satu sisi masih bergantung pada skema berpikir lama: Bloom’s Taxonomy yang menilai kemampuan belajar dari mengingat hingga mencipta. Di sisi lain, muncul arus baru yang menuntut kedalaman berpikir, bukan sekadar keluasan pengetahuan. Di sanalah pendekatan SOLO Taxonomy (Structure of Observed Learning Outcomes) menemukan momentumnya.


Pendekatan SOLO, dikembangkan John Biggs dan Kevin Collis, menggeser fokus dari “apa yang siswa tahu” menuju “bagaimana siswa membangun makna dari pengetahuan itu”. Ia mengajarkan bahwa belajar tidak berhenti pada jawaban, tetapi pada kemampuan mengaitkan, menafsirkan, dan menciptakan gagasan baru. Struktur lima level, diantaranya PrestructuralUnistructuralMultistructuralRelational, dan Extended Abstract menjadi cermin sejauh mana peserta didik menapaki kedalaman berpikir.


Di sinilah letak daya dobrak SOLO, ia tidak memandang belajar sebagai tumpukan konsep, melainkan proses evolusi pemahaman. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, kerangka ini terasa relevan dan mendesak. Sebab, kurikulum baru itu menuntut pembelajaran yang kontekstual, reflektif, dan mendorong kemandirian berpikir.


Kita tahu, salah satu kelemahan pendidikan kita adalah dominasi surface learning, pembelajaran dangkal yang berhenti di hafalan dan reproduksi pengetahuan. Berdasarkan data Kemendikbudristek 2024, lebih dari 60 persen guru di Indonesia masih menggunakan asesmen berbasis pengetahuan faktual, bukan penalaran atau penerapan konsep. Akibatnya, hasil PISA Indonesia 2022 menempatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa di bawah rata-rata OECD. Ini bukan sekadar statistik, ini cermin bahwa kita belum benar-benar mengajarkan anak-anak untuk berpikir dalam.


SOLO menawarkan jalan keluar yang lebih progresif. Ia menuntut guru untuk bertransformasi menjadi arsitek berpikir, bukan sekadar penyampai materi. Dengan rubrik SOLO, pendidik dapat menilai bukan hanya hasil akhir, tetapi proses dan struktur pemikiran di baliknya. Seorang siswa yang mampu menjelaskan hubungan antar konsep hingga menciptakan gagasan baru berarti telah mencapai level Extended Abstract, puncak dari pembelajaran mendalam.


Transformasi ini bukan tanpa tantangan. Diperlukan pelatihan intensif bagi guru agar mampu menafsirkan hasil belajar secara holistik. Sekolah perlu mengubah paradigma penilaian, dari berbasis angka menuju berbasis bukti pemahaman. Namun, justru di sinilah letak peluang: pendidikan yang benar-benar menumbuhkan manusia berpikir, bukan manusia menghafal.


Dalam konteks daerah, seperti di Jember dan kabupaten lain di Jawa Timur, pendekatan SOLO bisa menjadi kunci kebangkitan generasi muda. Anak-anak daerah tidak hanya perlu diajarkan teori, tetapi juga kemampuan mengaitkan ilmu dengan realitas sosialnya, dari pertanian, kewirausahaan lokal, hingga isu lingkungan. Di titik inilah SOLO menjadi relevan, ia menghidupkan pembelajaran yang membumi dan berpikir tinggi sekaligus.


Pendidikan masa depan bukan lagi soal siapa yang tahu paling banyak, melainkan siapa yang mampu memahami paling dalam. Jika Kurikulum Merdeka adalah panggilan untuk merdeka berpikir, maka pendekatan SOLO adalah alat untuk menyalakan kemerdekaan itu di ruang kelas.


Kita membutuhkan generasi yang tak hanya menjawab soal, tapi mampu mempertanyakan makna. Dan itulah energi baru pendidikan Indonesia, energi yang lahir dari kedalaman berpikir, bukan dari ketebalan catatan.

Posting Komentar

0 Komentar